Budaya Macapat di Ambunten Barat

AMBUNTEN-Kamis (10/08), Mahasiswi peserta Kuliyah Kerja Nyata (KKN) Riset Partisipatif INSTIKA, Posko XLIV Desa Ambunten Barat mengikuti acara macapat yang berlangsung di rumah sekretaris desa setempat. Budaya macapat di desa Ambunten Barat menjadi sebuah tradisi yang setiap tahun dilaksanakan demi menjaga kearifan local (local wisdom) masyarakat.

“Tradisi ini sudah berlangsung cukup lama, turun temurun dari nenek moyang. Apabila tradisi ini tidak dilaksanakan akan berdampak fatal bagi warga sekitar, karena tradisi ini dipercaya ampuh untuk menolak balak/musibah dan setiap rumah minimal melakukan tradisi macapat ini 1 tahun sekali,” ucap Bapak H. Mulyo Adi selaku sekretaris desa.

Tradisi macapat ini dibawakan oleh sekelompok orang yang terdiri dari satu pemimpin dengan delapan orang laki-laki dan tiga orang perempuan yang dilakukan oleh sesepuh desa Ambunten Barat. Acara berlangsung dari jam 21:00-01:00 WIB. Para sesepuh itu duduk melingkar mengelilingi sesajen yang terdiri dari keris, kembang tujuh rupa, sajadah, tasbih, kain dan nyiru/tampah, ghaddang (dalam bahasa madura). Setelah satu jam lamanya, mereka berdiri dan menari-nari kecil mengelilingi sesajen.

Pada dasarnya, tradisi ini dilakukan untuk meneladani dakwah sunan kalijaga, yang menyebarkan Islam abad ke-15 di pulau Jawa. Diiringi irama merdu mendayu mereka bersimpuh, terhanyut, melantunkan suluk dan kidung “Kwedar”, mantra penolak balak karya Sunan Kalijaga di pandu seni wati dan seniman berpengalaman.

Seni macapat sendiri adalah seni suara yaitu menyanyikan puisi dengan irama empat-empat, yang populer di Madura, Bali, Sunda, Palembang, dan Banjarmasin. Tidak heran bila seni macapat ini penting untuk dilestarikan dari generasi ke generasi untuk menghindari kepunahan di tengah derasnya arus globalisasi (Posko XLIV/ Ambunten Barat).