BATUAN-Jum'at (11/17), KKN Riset Partisipatif 2017 Posko XVI melakukan rapat evaluasi mingguan, bertempat di Posko utama. Evaluasi tersebut dilaksanakan untuk memastikan konsistensinya program kerja yang sudah dilaksanakan. Posko XVI tidak mengevaluasi keseluruhan program kerja, akan tetapi evaluasi tersebut lebih diprioritaskan pada tindak lanjut pendirian Madrasah Diniyah (MADIN).
Madrasah diniyah (MADIN) adalah salah satu program unggulan yang dapat diberikan oleh peserta KKN Riset Partisipatif 2017 Posko XVI terhadap desa Gung-Gung, Kec. Batuan, Kab. Sumenep. Munculnya inisiatif teman-teman peserta KKN posko XVI untuk mendirikan Madrasah diniyah (MADIN) didasarkan pada hasil observasi ke seluruh aparatur desa, para tokoh masyarakat dan warga setempat. masyarakat desa Gung-Gung, betul-betul berharap agar di desa mereka memiliki lembaga pendidikan madrasah diniyah.
Seperti yang disampaikan oleh bendahara desa, bapak Busar, di kediamannya, pada hari Kamis, 10 Agustus 2017, sekitar pukul 19:30 WIB., bahwa madrasah diniyah adalah merupakan sebuah media pendidikan yang sangat signifikan untuk diadakan kembali di Gung-Gung, karena menurutnya, MADIN bukanlah hal baru yang baru dirilis di Gung-Gung, akan tetapi, MADIN tersebut sudah pernah ada sekitar 20 tahun silam, yaitu diperkirakan sekitar pada tahun 1980-an.
Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh salah satu tokoh masyarakat yang kebetulan juga posisinya sebagai kepala rukun tetangga (RT) 02 di Gung-Gung Timur, yaitu Ustadz Abd. Salam. Beliau sangat apresiatif akan terlaksananya madrasah diniyah. Bahkan, sebagai bentuk apresiasinya terhadap madrasah diniyah, beliau bersedia untuk menjadi fasilitator di madrasah tersebut. Lebih dari itu, Ustadz Abd. Salam bahkan siap mengkordinir para santrinya untuk diarahkan bersekolah di madrasah diniyah tersebut.
Untuk bisa memastikan bahwa madrasah diniyah tetap berlanjut dalam jangka waktu yang lama, maka perlu adanya dukungan dari para tokoh masyarakat dan warga setempat, termasuk dari kepala desa sendiri. “Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang banyak atas partisipasinya telah mereaktualisasikan kembali madrasah diniyah di desa Gung-Gung. Karena madrasah diniyah (MADIN), adalah sebagai upaya nyata untuk membentengi para pemuda dari ilmu agama serta mentransformasikan nilai-nilai akhlaqul karimah secara tersetruktur dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Sementara dari pihak rektorat saat munitoring ke Posko XVI, Drs. KH. Abbadi 'Ishomuddin, MA dan K. Hosnan, sangat mengapresiasi terhadap program berdirinya madrasah diniyah ini. Mereka menyarankan agar dalam waktu yang sangat singkat ini untuk memfokuskan pada program madrasah diniyah ini. Salah satunya yaitu melakukan sosialisasi terhadap aparatur desa seperti Kades dan para tokoh-tokoh masyarakat. Kemudian, rektor INSTIKA, K. Abbadi, siap membantu suksesnya madrasah diniah. Lebih dari itu, jika di madrasah tersebut membutuhkan tenaga pengajar, maka beliau siap mengutus salah satu mahasiswanya untuk mengabdi di madrasah tersebut. “Kami berharap madrasah diniyah ini benar-benar terealisasi dengan baik. Karena hal ini bisa menjadi amal jariah kalian,” ujarnya kepada teman-teman peserta KKN Riset Partisipatif 2017 posko XVI, saat berkunjung ke posko XVI, pada hari Kamis, 10 agustus 2017.
Sebagai bentuk kecintaan masyarakat terhadap madrasah diniyah, maka sebagian warga siap untuk mensedekahkan lahannya untuk pembangunan madrasah diniyah. Dia adalah ibu Istiqamah Ari, warga Gedungan, Kec. Batuan, Kab. Sumenep. Ibu Istiqomah termasuk salah satu warga yang sangat mendukung akan berdiriya madrasah diniyah. Walaupun dia, Istiqomah, bukan penduduk asli Gung-Gung, tetapi semangat ibu Is (sapaan Istiqamah Ari), sangat tinggi agar madrasah diniyah di Gung-Gung benar-benar berdiri kembali. "kami berharap agar dengan program adik-adik peserta KKN tahun ini menjadi lokomutif tegaknya madrasah di Gung-Gung," ujarnya ketika dijumpai teman-teman posko XVI di kediamannya, pada hari Jum'at, 4 Agustus 2017. (Oleh: Ashimuddin Musa/KKN Posko XVI)