RUBARU-Sejak beberapa tahun yang lalu, Rubaru telah menjadi sentra hortikultura, yakni pusat sayuran se- kabupaten Sumenep. Potensi ini menjadi kebanggaan tersendiri dan motivasi bagi masyarakat setempat untuk terus mengelola sawah ataupun tegalan yang ada dengan menanam berbagai macam sayur dan buah.
Salah satu diantara beberapa jenis sayur dan buah yang biasa diperjualbelikan di Desa Rubaru adalah cabe. Harga cabe yang secara tiba-tiba mahal atau bahkan murah (anjlok) tidak menjadi penghalang bagi para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi penjualan. Fluktuasi harga cabe di Desa Rubaru ini sangatlah variatif, dimulai dari harga 15.000, 10.000, 9000, bahkan hingga 7.500 perkilo.
Satu hal yang dirasa cukup berbeda dengan jual beli cabe di desa lainnya adalah tidak adanya pemetaan harga antara cabe rawit, cabe tongkol dan lainnya. Bahkan dalam hal warnapun harga disamaratakan, baik merah, kuning atau bahkan hijau.
Setiap hari, tepatnya sore ba’da ashar para pedagang cabe berkumpul di jalan simpang tiga depan gerbang pondok pesantren Nurul Huda. Tempat tersebut merupakan salah satu pusat keramaian. Selain sebagai pusat lalu lintas masyarakat, tempat tesebut juga berdekatan dengan pasar sore tradisional Desa Rubaru.
Masyarakat akan berbondong-bondong tanpa harus dikomando untuk datang dan menjual hasil panen cabe ke area. Jika dilihat secara menyeluruh, pada setiap harinya akan ada sekitar 5-6 karung besar cabe hasil jual beli yang telah dilakukan. Jadi tak dapat dipungkiri bahwa tempat tersebut sangatlah strategis dan sudah disesuaikan dengan konsep segmentasi pasar yang ada (Hasanah Najib/ Posko XXIII, Rubaru I).