RUBARU- Posko XIX Kuliah Kerja Nyata (KKN) Riset Partisipatif INSTIKA mendapatkan kunjungan dari Bapak. Paisun, Bapak. Syafik, dan Bapak. Sinawar selaku Panitia pelaksana KKN 2017. Kunjungan ini disambut hangat oleh segenap peserta KKN dan diterima di kediaman Kia Rusdy sebagai pengasuh PP. An-Najah, Dusun Kaleleng, Desa Matanair pada Selasa, (25/ 07/17).
Kondisi Posko 19 Desa Matanair pada saat itu sepi dan hanya terdapat satu peserta KKN yang sedang piket di Posko. “Teman-teman yang lain masih dalam perjalanan pulang dari rumah kepala desa yang berada di Dusun Karongkong,” ungkap Suti’ah. Dengan senang hati, Suti’ah menyambut rombongan panitia KKN dan langsung menghaturkannya ke Mushalla, dengan ditemani oleh tuan rumah sendiri, yakni Kiai Rusdy.
Pemantauan langsung dimulai setelah seluruh peserta KKN Posko 19 datang dan bergabung ke Mushalla pada jam 09:36. Berbagai pertanyaan ditujukan oleh Bapak Sinawar tentang Mapping desa Matanair. Peserta KKN mengakui bahwa mapping tersebut belum sepenuhnya rampung dan masih dalam tahap penyempurnaan. Pertanyaan berlanjut menjadi tiga kelompok, di mana Pak Sinawar dengan ketua Posko berdiskusi mengnai hasil pohon masalah dan program kerja. Sedangkan Pak Syafiq mengumpulkan hasil field notes, dan bagian Pak Paisun bertanya tentang hasil transek wilayah yang tidak sama dengan contoh transek sumber daya alam desa, yang seharusnya harus dipetakan antara bidang pendidikan, keagamaan, perekonomian, dan lain sebagainya.
Berbagai masukan dari panitia KKN tentang penyempurnaan mapping, field notes dan transek dicermati dengan baik melalui catatan perkelompok. Kegiatan monitoring terlihat tidak terlalu menegangkan dan kaku, tetapi lebih rileks dalam bentuk bincang-bincang, sehingga membuat hasil monitoring mudah diterima dengan baik.
Sebelum panitia KKN meninggalkan tempat untuk melanjutkan monitoring ke Posko lain yang masih tertinggal 11 Posko, peserta KKN Posko 19 mengabadikan monitoring pertama tersebut dengan berfoto bersama di depan Mushalla yang disambut dengan keceriaan dan canda tawa (Ana M/Posko XIX Matanair).